Laman

Minggu, 07 September 2014

Pantai Tanjung Kalian


Selain terkenal dengan Gunung Menumbing sebagai tempat pengasingan Presiden pertama kita yaitu Ir. Soekarno, kota Muntok juga terkenal dengan mercusuarnya. Pasti semua mengira mercusuar ini dibangun pada zaman penjajahan Belanda. Untuk sedekar diketahui bahwa bangunan bersejarah itu adalah peninggalan zaman koloni Inggris, bukan zaman koloni Belanda. Mercusuar ini dibangun pada tahun 1862, dengan ketinggian kurang lebih 65 meter. Terdiri dari 18 lantai serta memiliki 117 tangga batu yang berbentuk melingkar didalam menara. Seperti halnya mercusuar lain, mercusuar ini masih berfungsi hingga saat ini yaitu sebagai sarana penyelamat lalu lintas kapal di sekitar Tanjung Kalian pada waktu malam hari. Sinar lampu mercusuar Tanjung Kalian ini masih dapat dilihat jelas di radius 25 mil dari arah jalur kapal yang melintas.

Pantai ini terletak di Kelurahan Tanjung, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat yang merupakan wilayah pemekaran yang baru setelah terbentuknya Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pantai ini terletak ±9 km dari Kota Mentok, di sini terdapat menara atau Mercusuar yang dibangun pada tahun 1862. Dari puncaknya dapat disaksikan seluruh kawasan Pantai Mentok yang indah. Fungsi dari menara itu sendiri untuk melihat keluar masuknya kapal-kapal dari/ke Pelabuhan Mentok. Di sini juga terdapat pula monumen peringatan 21 (duapuluh satu) perawat Australia yang gugur dalam peristiwa pemboman kapal laut Australia oleh tentara Jepang pada tanggal 16 Pebruari 1942

Mercusuar yang berdiri tegar dan kokoh di Tanjung Kalian adalah sebuah sarana penyelamat lalu lintas kapal yang di bangun oleh Belanda pada tahun 1862. Mercusuar ini memiliki ketinggian lebih kurang 65 m dan terdiri dari 16 pantai. Dari puncak menara, keindahan se keliling dapat terlihat. Ke arah barat, tampak Pantai Tanjung Kalian dengan pasir yang putih sepanjang lebih kurang 5 km. Ke sebelah timur, tampak pelabuhan tua kota Muntok. Di waktu malam, sinar lampu mercusuar ini dapat terlihat dengan jelas dengan radius 5 km dari arah laut, sebagai markas jalur kapal-kapal yang melintas.



dari atas mercusuar ini kita bisa melihat pemandangan yang tak kalah menakjubkan. Kita bisa melihat pelabuhan tua kota Muntok yang berada disebelah timur mercusuar ini. Disebelah baratnya akan tertangkap pemandangan Pantai Tanjung Kalian dengan pasir putih sepanjang lebih kurang 5 Km. Jika masih punya nyali, coba naik lagi kebagian atas mercusuar dengan menaiki tangga papan kecil dengan kemiringan 90 derajat. Disana Anda bisa mengabadikan pemandangan yang eksotis untuk dokumen pribadi Anda. Terlebih lagi jika Anda berprofesi atau hobi dibidang fotografi, tentunya tak akan melewati moment indah dari puncak mercusuar ini.




Tidak berapa jauh dari mercusuar terdapat bangkai kapal yang sudah puluhan tahun berada di bibir pantai Tanjung Kalian. Konon ceritanya bangkai kapal tersebut adalah bangkai kapal dari Korps Perawat Angkatan Darat Australia yang dikandaskan tentara Jepang pada Perang Dunia II. Mercusuar Tanjung Kalian merupakan saksi bisu pembantaian massal tentara Jepang terhadap 22 perawat dari Australia tanggal 16 Februari 1942. Dalam peristiwa tersebut hanya satu yang selamat, yakni suster Lt Vivian Bullwinkel. Bullwinkel telah pingsan ketika ia sampai di pantai, lalu ia bersembunyi selama 10 hari hingga akhirnya tertangkap dan dipenjarakan. Bullwinkel selamat dari perang dan menjadi saksi serta memberikan bukti tentang pembunuhan besar-besaran di pengadilan kejahatan perang di Tokyo pada tahun 1947.

Ditahun yang sama ada kapal yang mengangkut layanan personil Australia yang terluka dan 64 perawat dari Rumah Sakit Umum 2/13th Australia. Kapal itu ditembak dan ditenggelamkan oleh Jepang. Dua orang perawat terbunuh pasca pengeboman oleh Jepang, 9 terbawa ombak dan tidak ditemukan dan sisanya terdampar di pantai.


Sehingga dari peristiwa tersebut dibuatlah sebuah Monumen Perang Dunia Ke-II yang dibangun sekitar tahun 1993. Monumen tersebut untuk mengenang peristiwa pengeboman kapal yang di bom dan dikandaskan Jepang di Tanjung Kalian. Banyaknya korban dari peristiwa tersebut bisa dilihat dari monumen ini. Dengan berdirinya monumen ini kita bisa mengenang kembali peristiwa dan tragedi tersebut serta bisa menjadi wisata sejarah di sekitar Pantai Tanjung Kalian.


Mercusuar Tanjung Kelian bukan sekadar pemandu bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Bangka. Sosok menara batu itu, dan sejumlah peristiwa sejarah yang terkait dengannya, seperti magnet yang menarik setiap pengunjung yang datang ke Muntok, ibu kota Bangka Barat. Mercusuar Tanjung Kelian ibarat jendela Pantai Bangka Barat. Memasuki perut mercusuar tersebut, setiap pengunjung akan segera disergap oleh hawa sejuk dengan aroma kelembapan ruang yang jarang terkena sinar Matahari. Dinding mercusuar yang tebal menahan udara pantai yang cukup panas.


Dasar mercusuar yang agak gelap membuat tapak-tapak anak tangga sedikit licin karena berlumut sehingga kaki harus dipijakkan dengan sangat hati-hati agar tidak terpeleset. Setiap selang 10 tapak, anak tangga sengaja dibuat melebar yang berfungsi sebagai penanda tingkat. Setelah tiga tingkat, pandangan sudah lebih leluasa karena ada ventilasi pada dinding mercusuar. Ventilasi itu berupa jendela berbentuk bulat dengan daun jendela berupa tingkap yang bisa didorong keluar.

Dari jendela tersebut aktivitas bakal dermaga penyeberangan Muntok-Palembang, yang tengah dibangun tidak jauh dari mercusuar, jelas terlihat. Dermaga Tanjung Kelian akan menggantikan Pelabuhan Muntok sebagai tempat kedatangan dan pemberangkatan feri penyeberangan. Berdiri di depan jendela itu selama beberapa menit membuat paru-paru dipenuhi udara sejuk yang melegakan.

Semakin tinggi, sampai ke tingkat 18, tangga batu digantikan oleh 19 tapak tangga dari kayu yang mengantar ke bagian paling atas dari mercusuar tersebut. Di ruangan berdiamater tiga meter itu terdapat lampu mercusuar yang terletak di tengah-tengah ruangan.

Perangkat lampu membuat ruangan terasa sempit. Menurut penjaga Suar, kap lampu yang terbuat dari gelas tebal itu masih asli. Lampu ini punya kekuatan sorot sampai 40 mil jauhnya, dengan kekuatan 1.000 watt. Setiap kali dinyalakan membutuhkan 20 liter solar, yang membuatnya bisa bertahan 12 jam.

Sayangnya, pucuk menara yang terhitung kerap didatangi oleh pengunjung itu tak terhindar dari tangan-tangan jahil. Dinding menara yang licin dengan cat putih penuh dengan coretan. Bagian luar menara dikelilingi oleh teras melingkar dengan pagar pembatas berwarna merah darah. Pintu mercusuar terbuat dari besi dengan bentuk seperti pintu kapal yang tingginya sekitar satu meter.

Dari puncak menara itu mata bisa melihat sepertiga wilayah Bangka Barat. Kapal-kapal nelayan yang sedang bersandar di Pelabuhan Mentok, pemancing ikan yang sedang duduk santai di rongsokan bangkai kapal di pinggir pantai, dan deretan pohon kelapa sawit.

Garis cakrawala yang melengkung menjadi pembatas antara wilayah perairan dan langit bebas. Sudah sejak lama Pantai Tanjung Kelian yang berada di ujung Kota Mentok menjadi tempat rekreasi yang murah meriah bagi masyarakat setempat. Setiap sore pantai berpasir putih itu selalu ramai. Keluarga yang datang dengan membawa tikar dari rumah, anak-anak muda yang duduk di atas sepeda motor mereka, sampai pehobi mancing.

Setiap memasuki bulan Puasa, masyarakat juga punya kebiasaan unik, berkemah di tepi pantai. Minimal dua hari sebelumnya mereka sudah mematok lahan pantai yang akan ditempati untuk berkemah. Persis sehari sebelum masuk minggu pertama bulan Puasa, pantai di depan mercusuar ini penuh oleh warga.

Keindahan alam memang menjadi sahabat setia tiga petugas penjaga yang tinggal di kompleks mercusuar tersebut. Namun, Tanjung Kalian tidak semata menawarkan keindahan alam. Ada potongan sejarah yang tertinggal. Mercusuar tersebut menjadi saksi tragedi yang menimpa sekelompok perawat asal Australia saat kapal mereka dikandaskan oleh tentara Jepang pada masa Perang Dunia II.

Tugu peringatan itu terletak di halaman depan mercusuar, di bawah naungan pohon ketapang besar. Tugu yang sempat dikunjungi oleh kerabat para perawat asal Australia pada tahun 2000 dan 2002 itu merupakan bagian sejarah yang sebenarnya mampu menjadikan mercusuar Tanjung Kalian sebagai obyek wisata yang menarik

Setelah lelah menaiki tangga mercusuar serta berkeliling Pantai Tanjung Kalian, Anda bisa menikmati beragam kuliner khas daerah Muntok. Di sekitar Pantai Tanjung Kalian banyak pedagang yang menjajakan makanan khas Kota Muntok. Ada otak-otak yang bisa Anda rasakan sendiri sensasi memanggangnya. Ada juga kue-kue khas Muntok yang rasanya sangat enak dan masih asli, serta air kelapa muda yang terasa segar diminum sambil menikmati keindahan pantai tanjung kalian dengan semilir angin pantainya. Jika beruntung bisa melihat kapal yang berlayar ataupun yang berlabuh menuju dan ke pulau seberang (Palembang, Sumatera Selatan).