Laman

Rabu, 16 November 2011

indahnya alam ini

Subhanalloh...Alhamdulillah...Allohuakbar...
indahnya alam ciptaanMU Ya ALLOH...saat kami mendapat kesempatan menikmati salah satu kebesaranMU...pantai yg elok & eksotik banget...pantai tikus di sungailiat kab.bangka...

sungguh...memang kep.bangka belitung adalah salah satu daerah di indonesia yang memiliki begitu banyak pantai...dimana pantai tersebut memiliki kekhasan, karakteristik & keindahan yang berbeda-beda...ada pantai yang berpasir begitu luasnya dan panjang banget, seperti pantai pasir padi di kota pangkalpinang, pantai matras di sungailiat kab.bangka, pantai tanjung langka di koba kab.bangka tengah....juga ada pantai yg terdapat batu-batu besarnya, seperti pantai teluk limau, pantai tikus, dll...ada pantai yang sudah go internasional & begitu populer, seperti pantai parai tenggiri dan pantai tanjung pesona di sungailiat...juga ada pantai batu berdaun, pantai batu berlubang, pantai tanjung langka dan masih banyak lagi yang lainnya...

pantai parai tenggiri & pantai tanjung pesona adalah beberapa pantai di sungailiat yang sudah terkenal lho...bahkan di tempat ini terdapat hotel berbintangnya, ada resor & permainan air yang menantang...masih banyak lagi pantai-pantai yang belum terekspos & dimanfaatkan secara optimal sebagai aset daerah yang mampu mendatangkan pendapatan daerah terutama disektor pariwisata...so...tetap semangat untuk memajukan daerah sekitar wilayah pesisir di indonesia tercinta...

indahnya karuniaMU Ya ALLOH...

pantai teluk limau dg batu-batu besarnya
pantai tikus yang eksotis & masih alami...amazing...

pantai tanjung langka di koba kab.bangka tengah

pantai batu berdaun

tanjung pesona

semoga kami bisa menjadi insan yang selalu mensyukuri atas semua nikmat &a karunia yang tlah ENGKAU beri, mampu memberi manfaat bagi sesama...dan...moga semua ini berbarokah.aamiin...
senyum semangat for & b'cz ALLOH...~_^...

Kamis, 10 November 2011

Candi Tegowangi di Kediri

Candi Tegowangi adalah situs peninggalan jaman dahulu yang terletak di desa Tegowangi, kecamatan Plemahan yang merupakan wilayah utara kabupaten Kediri. Candi Tegowangi merupakan salah satu monumen agung warisan Kerajaan Majapahit.


Candi ini dibangun kurang lebih tahun 1400 masehi. Kitab Pararaton dan Negarakertagama menyebutkan bahwa Bhre Matahun setelah wafat pada tahun 1388 masehi, kemudian didarmakan di Tigowangi yang disebutkan berada di Kusumapura dengan upacara Srada setelah 12 tahun kematiannya.



Candi ini dibangun dengan batu andesit dengan pondasi dari batu bata merah dengan orientasi arah ke barat. Diatas Candi terdapat yoni dengan pahatan yang sangat indah dihiasi motif binatang dan naga serta batu pipih.


Untuk mencapai lokasi ini, Anda bisa menempuh melalui kendaraan, lebih kurang 45 menit dari pusat Kota Kediri. Sesuai dengan namanya, candi ini terletak di Desa Tegowangi, kecamatan Plemahan, sekitar 4 Km dari pusat kota Pare Kediri.



Candi Tegowangi memiliki ketinggian sekitar 4,35 M dan berukuran 11,20 x 11,20 M. Seperti yang disebutkan dalam Kitab Paraton, candi Tegowangi merupakan tempat pendermaan Bhre Matahun. Dalam kitab Negarakertagama, dijelaskan bahwa Bhre Matahun meninggal tahun 1310 C (1388 M), maka diperkirakan candi ini dibangun pada tahun 1400 di masa majapahit, karena pendhermaan seorang raja dilakukan 12 tahun setelah sang raja meninggal dengan upacara Srada.



Menelisik dari bentuk bangunan, candi Tegowangi berbentuk bujur sangkar dan menghadap ke barat. Pondasinya terbuat dari batu bata, sedangkan balur kaki dan sebagian tubuh yang tersisa terbuat dari batu andesit. Bagian kaki candi berlipit dan berhias. Tiap sisi kaki candi ditemukan tiga panil tegak yang dihiasi raksasa atau gana yang duduk berjongkok, kedua tangan diangkat ke atas seperti mendukung bangunan candi. Di atasnya terdapat tonjolan-tonjolan berukir melingkari kaki candi. 


Di atas candi terdapat sisi genta yang berhias. Di halaman candi terdapat beberapa arca, yaitu Parwati, Ardhanari, Garuda berbadan manusia, dan sisa-sisa bangunan candi di sudut tenggara. Candi ini diyakini sebagai candi beraliran agama hindu.

Candi Tegowangi merupakan sebuah candi Hindu tua di wilayah Kediri. Candi Tegowangi lokasinya berada di Dusun Candirejo, Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kediri, Jawa Timur, pada posisi GPS -7.73462, 112.16111.



Setelah kira-kira 1 km dari Jl. Papar di Pare, kami masuk ke Jl. Balung Jeruk, dan berbelok masuk ke sebuah jalan kecil sejauh 100 meter dan menjumpai papan nama Candi Tegowangi di atas. Candi Tegowangi tampak di latar belakang, di tengah sebuah pertamanan yang ditumbuhi pepohonan di sekelilingnya.

Lintasan yang dibuat cukup rapi menuju Candi Tegowangi yang ditanam tumbuhan perdu di kiri kanannya. Candi Tegowangi berada di tempat yang sangat terbuka tanpa pepohonan pelindung yang cukup rindang di sekeliingnya, dan satu-satunya tempat duduk adalah di rumah penjaga Candi Tegowangi yang berada di mulut kompleks. Karenanya baik siapkan topi atau payung jika tidak suka dengan sengat matahari.



Tampak muka Candi Tegowangi dengan undakan yang masih berupa reruntuhan. Sudah waktunya dinas purbakala dan pemerintah setempat melakukan restorasi terhadap Candi Tegowangi ini, sehingga menjadi sebuah candi yang utuh dan indah, dan lebih enak untuk dikunjungi.


Tampak samping Candi Tegowangi yang bentuknya relatif masih utuh. Hanya bagian atasnya yang terlihat tidak beraturan dan memerlukan restorasi. Di bagian tengah pada foto di atas terlihat pilar polos yang menghubungkan badan dan kaki candi yang belum selesai dikerjakan. Pilar semacam ini juga dijumpai pada sisi yang lain.



Sebuah sudut Candi Tegowangi yang dihias ukiran berupa relief dedaunan dan sulur-suluran. Candi Tegowangi ini bentuknya bujur sangkar berukuran 11,2 m x 11,2 m, setinggi 4,35 m, menghadap ke barat. Pondasi Candi Tegowangi terbuat dari bata, dengan batur kaki dan bagian lainnya terbuat dari batu andesit.

Sebuah relief Raksasa (Gana) yang duduk dengan lutut tertekuk,sementara kedua tangannya mendorong ke atas seperti menopang bangunan Candi Tegowangi. Di setiap sisi Candi Tegowangi terdapat relief Gana ini dengan bentuk yang sedikit berbeda. 



Candi Tegowangi sangat kaya dengan relief yang melingkari dinding di sekeliling candi, yang seluruhnya berjumlah 14 panel, dengan 3 panel di sisi Utara, 8 panel di sisi Barat dan 3 panel di sisi Selatan, yang berisi cerita Sudamala.

Relief Gana di sisi lain Candi Tegowangi. Di atasnya terdapat tonjolan-tonjolan batu berukir yang melingkari kaki candi. Di atas tonjolan ini terdapat sisi genta yang berhias relief.



Relief pada Candi Tegowangi ini berisi cerita tentang ruat (pensucian) Dewi Durga dari bentuk jelek dan jahat menjadi Dewi Uma dalam bentuknya yang baik. Ritual pensucian ini dilakukan oleh Sadewa, bungsu dari Pendawa. 

Relief pada sisi lain Candi Tegowangi. Pada bilik tubuh candi terdapat Yoni dengan cerat (pancuran) berbentuk naga, namun sayang saya tidak menemukannya. 
Sebuah reruntuhan candi di sisi tenggara Candi Tegowangi. Ada baiknya jika reruntuhan candi ini juga direstorasi dengan mendatangkan ahlinya dari Jawa dan Bali.

Sebuah arca rusak di pelataran Candi Tegowangi, yang mungkin merupakan arca Dewa Wisnu yang tengah menunggang Garuda. Di halaman Candi Tegowangi juga terdapat arca yaitu Parwati, dan Ardhanari. Parwati dianggap sebagai pasangan kedua dari Siwa, yang merupakan ibu dari Ganesha dan Kartikeya (Skanda). Parwati juga dihormati sebagai perwujudan dari Sakti atau Durga.

Menurut Kitab Pararaton, Candi Tegowangi merupakan tempat Pendharmaan Bhre Matahun. Bhre Matahun adalah suami dari Bhre Lasem, yang melahirkan Nagarawardhani yang kemudian menikah dengan Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk. 
Dalam Kitab Negarakertagama, Bhre Matahun meninggal pada tahun 1310 C (1388 M), sehingga diperkirakan Candi Tegowangi dibuat pada tahun 1400 M, karena pendharmaan dilakukan 12 tahun setelah meninggal dengan upacara srada.

sumber: www.kotakediri.info.com

Kamis, 20 Oktober 2011

Lokomotif B23 Penuh Kenangan


Keuntungan finansial yang diperoleh perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg maatschappij (NIS) dari pengoperasian jalur kereta api rute Semarang – Solo – Yogyakarta dan Jakarta – Bogor memberi harapan baru kepada para pengusaha swasta yang telah berminat untuk menanamkan modal mereka dalam kegiatan jasa angkutan dengan kereta api. Perusahaan kereta api swasta Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM) mendapat konsesi dari pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1894 untuk membangun jalan rel di sekitar kota Kediri, Jombang dan Pare. Konstruksi jalan rel pertama dibangun KSM pada rute Jombang – Pare – Kediri (50 km) dan selesai dibangun pada tahun 1897.

Stasiun Pare merupakan kantor pusat dari KSM. Di stasiun ini juga terdapat dipo lokomotif. Pada tahun 1897 – 1900, KSM telah berhasil membangun jalan rel dengan total panjang 121 km. Untuk melayani rute ini, KSM mendatangkan lokomotif uap B23 dari pabrik Henschel (Jerman) pada tahun 1900 sebanyak 1 lokomotif saja. Lokomotif ini digunakan untuk menarik rangkaian kereta yang mengangkut hasil perkebunan dan penumpang pada rute jarak dekat. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tingkat produktivitas pertanian dan perkebunan di kota Kediri dapat dikatakan cukup besar, banyak tanah yang disewakan untuk menjadi perkebunan.

Loko B23

Lokomotif B23 memiliki susunan roda 0-4-0T merupakan lokomotif yang memiliki dua silinder berdimensi 280 mm x 430 mm pada sisi luar dengan roda penggerak berdiameter 800 mm. Lokomotif ini dapat melaju hingga kecepatan maksimum 25 km/jam. Berat keseluruhan 16 ton. Lokomotif B23 menggunakan bahan bakar kayu jati atau batubara.

Karena KSM mengalami kesulitan keuangan maka lokomotif ini dipindah ke kota Madiun untuk dioperasionalkan di jalan rel milik perusahaan kereta api Staats Spoorwegen. Satu-satunya lokomotif seri B23 yang didatangkan di Indonesia adalah B23 01. B23 01 saat ini dipajang di Museum Transportasi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Sumber: http://indonesianheritagerailway.com

Senin, 10 Oktober 2011

Sejarah Yang Terlupakan

Kita mungkin tak akan lupa foto yang ada di buku sejarah. Kalau melihat gambar hitam putih ada orang ditandu, kita langsung berpikir: Jederal Sudirman. Kini tandu tersebut diabadikan di museum Museum Satria Mandala. Lalu bagaimana dengan nasib para pemikul tandunya? 


Berikut tulisan tentang nasib mereka yang diambil dari malangraya.web.id Perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia memang takkan pernah dilupakan rakyat. Akan tetapi, tak banyak sosok pejuang yang bisa diingat rakyat. Djuwari (82 tahun), barangkali satu dari sekian banyak pejuang yang terlupakan. Kakek yang pernah memanggul tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman itu, kini masih berkubang dalam kemiskinan. 

Tepat pada peringatan proklamasi 17 Agustus, Malang Post berusaha menelusuri jejak pemanggul tandu sang Panglima Besar. Djuwari berdomisili di Dusun Goliman, Desa Parang Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri, kaki Gunung Wilis. Kampungnya merupakan titik start rute gerilya Panglima Besar Sudirman Kediri-Nganjuk sepanjang sekitar 35 km. 



Dari Malang, dusun Goliman bisa ditempuh dalam waktu sekitar empat jam perjalanan darat. Kabupaten Kediri lebih dekat di tempuh lewat Kota Batu, melewati Kota Pare Kediri hingga menyusur Tugu Simpang Gumul ikon Kabupaten Kediri. Terus melaju ke jurusan barat, jalur ke Dusun Goliman tak terlalu sulit ditemukan. Sejam melewati jalur mendaki di pegunungan Wilis, Malang Post pun tiba di pedusunan yang tengah diterpa kemarau. Rute Gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman memang sangat jauh dari keramaian kota. Titik start gerilya berada di kampung yang dikepung bukit-bukit tinggi dan tebing andesit. 


“Inggih leres, kulo Djuwari, sampeyan saking pundi?” kata seorang kakek yang tengah duduk sambil memegang tongkat di sudut rumah warga Dusun Goliman. Melihat sosok Djuwari tak nampak kegagahan pemuda berumur 21 tahun, yang 61 tahun lalu memanggul Panglima Besar. Namun dipandang lebih dekat, baru tampak sisa-sisa kepahlawanan pemuda Djuwari. Sorot mata kakek 13 cucu itu masih menyala, menunjukkan semangat perjuangan periode awal kemerdekaan. Sang pemanggul tandu Panglima Besar itu mengenakan baju putih teramat lusuh yang tidak dikancingkan. Sehingga angin pegunungan serta mata manusia bebas memandang perut keriputnya yang memang kurus. Sedangkan celana pendek yang dipakai juga tak kalah lusuh dibanding baju atasan. 

Rumah-rumah di Dusun Goliman termasuk area kediaman Djuwari tak begitu jauh dari kehidupan miskin. Beberapa rumah masih berdinding anyaman bambu, jika ada yang bertembok pastilah belum dipermak semen. Sama halnya dengan kediaman Djuwari yang amat sederhana dan belum dilengkapi lantai. “Sing penting wes tau manggul Jenderal, Pak Dirman. Aku manggul teko Goliman menyang Bajulan, iku mlebu Nganjuk,” ujar suami almarhum Saminah itu ketika ditanya balas jasa perjuangannya. Dia bercerita, memanggul tandu Pak Dirman (panggilannya kepada sang Jenderal) adalah kebanggaan luar biasa. Kakek yang memiliki tiga cicit itu mengaku memanggul tandu jenderal merupakan pengabdian. Semua itu dilakukan dengan rasa ikhlas tanpa berharap imbalan apapun. 

Sepanjang hidupnya menjadi eks pemanggul tandu Soedirman, keluarga Djuwari beberapa kali didatangi cucu Panglima Besar. Pernah suatu kali diberi uang Rp 500 ribu, setelah itu belum ada yang datang membantu. Pemerintahan yang cukup baik kepadanya adalah pada zaman Soeharto, sesekali dia digelontor bantuan beras. “Biyen manggule tandu yo gantian le, kiro-kiro onok wong pitu, sing melu manggul teko Goliman yaiku Warso Dauri (kakak kandungnya), Martoredjo (kakak kandung lain ibu) karo Djoyo dari (warga Goliman),” akunya. Perjalanan mengantar gerilya Jenderal Soedirman seingatnya dimulai pukul 8 pagi, dengan dikawal banyak pria berseragam. Rute yang ditempuh teramat berat karena melewati medan berbukit-bukit dan hutan yang amat lebat. 

Seringkali perjalanan berhenti untuk beristirahat sekaligus memakan perbekalan yang dibawa. “Teko Bajulan (Nganjuk), aku karo sing podho mikul terus mbalik nang Goliman. Wektu iku diparingi sewek (jarit) karo sarung,” imbuhnya. Ayah dari empat putra dan empat putri itu menambahkan, waktu itu, istrinya (sudah dipanggil Tuhan setahun lalu) amat senang menerima sewek pemberian sang Jenderal. Saking seringnya dipakai, sewek itupun akhirnya rusak, sehingga kini Djuwari hanya tinggal mewariskan cerita kisahnya mengikuti gerilya. “Pak Dirman pesen, urip kuwi kudu seng rukun, karo tonggo teparo, sak desa kudu rukun kabeh,” katanya. 

Dari empat warga Dusun Goliman yang pernah memanggul tandu Panglima Besar, hanya Djuwari seorang yang masih hidup. Putra Kastawi dan Kainem itu masih memiliki kisah dan semangat masa-masa perang kemerdekaan. Ketika ditanya soal periode kepemimpinan Presiden Soekarno hingga SBY, Djuwari dengan tegas mengatakan TIDAK ADA BEDANYA.

Sumber at: http://www.hajsmy.us/2011/10/sosok-pemikul-tandu-jendral-sudirman.html

Kamis, 15 September 2011

Wisata Sumber Ubalan

Wisata Ubalan  terletak kurang lebih 18 Km ke timur Kota Kediri tepatnya di Dusun Kalasan Desa Jarak Kecamatan Plosoklaten, dapat ditempuh dengan berbagai jenis kendaraan. Tempat wisata Ubalan ini sngat mudah diakses karena letaknya yang dekat jalan raya yang menghubungkan antara Blitar dan Kediri.


Dahulu saat kami masih berdomisili di Turen, kota kecil di selatan Malang, kami sering melewati jalan ini (dusun kalasan, dimana wisata ubalan berada) saat bersilaturrahmi dengan saudara yang ada di Pare, Kediri.


Daya tarik wisata Sumber Ubalan berupa hutan lindung alami dengan berbagai jenis pohon hutan yang luasnya kurang lebih 12 Ha. disamping  itu juga sumber air di tengah hutan yang berhawa sejuk. Kawasan Sumber Ubalan juga menyediakan kolam renang, kolam pancing, panggung terbuka, berkemah, kolam perahu, restoran, mainan anak-anak, atau sekedar menikmati taman yang ditata indah dan asri. 


Penduduk lokal percaya bahwa air dari sumber mata air Ubalan ini bisa memperpanjang umur dan bisa membuat awet muda.

kolam renang di wisata ubalan

ruang pertemuan di ubalan

Taman wisata ini memiliki hutan lindung dan mata air yang jernih disamping juga:
  1. Wana wisata
  2. Kolam renang
  3. Kolam perahu dan sepeda air
  4. Taman bermain anak-anak
  5. Kolam pancing
  6. Taman asri yang indah
  7. Panggung hiburan
  8. Bumi perkemahan

Saat aji bersekolah di TK Tauladan Pare, aji pernah mengikuti kegiatan outbond yang diadakan sekolah TK tersebut. Semua anak TK baik PAUD, TK A dan TK B beserta guru dan wali murid berada di wisata Ubalan ini. Begitu senangnya anak-anak mengikuti pembelajaran di alam.

berfoto bersama di pintu masuk

aji melewati jalan titian memakai tali

memanjat tali

beraksi merangkak

flying fox...seruuu...

Senangnya aji bisa mengikuti kegiatan outbond bersama teman-teman di TK Tauladan Pare Kediri. Sebaiknya jangan dilewatkan ya, tuk mampir dan berwisata di Sumber Ubalan ini saat anda melewati jalur ini (Kediri - Blitar melalui Plosoklaten)...dijamin gak bakal kecewa dech, karena obyek wisatanya beraneka ragam lho bagi keluarga dan semuanya.

Wisata di Gunung Kelud


Gunung Kelud merupakan salang satu gunung yang masih aktif di Indonesia. Saat ini, Gunung kelud sangat fenomenal dengan kubah baru yang ada dari danau tersebut. Untuk mencapai Gunung Kelud, para pengunjung dapat datang dari arah Kediri ke Wates - Margomulyo - Bambingan hingga Jurang Gelap atau Gunung Pedot. Dari Jurang Gelap sampai kubah baru Gunung Kelud sekitar 2 km dan kita bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. 
 
jalan menuju gunung kelud

gerbang pintu masuk ke gunung kelud

Jika berwisata ke gunung kelud, janganlah khawatir, karena di akses jalan ke sana sangatlah mudah, di samping itu Pemkab Kediri juga telah dan masih terus membangun fasilitas yang menunjang agar wisatawan semakin suka dan senang berwisata di daerah ini. Salah satunya rest area (tempat istirahat) dan juga area parkir.

rest area

Gunung kelud saat ini telah berubah. Jika dahulu terdapat kawah hijau, namun kini setelah Gunung Kelud meletus pada tahun 2007  kawah yang indah hilang dan muncul kawah baru yang berbeda dari sebelumnya.

gunung kelud saat masih ada kawah

 peningkatan aktifitas lava

Peningkatan aktivitas Gunung kelud menunjukkan aktivitas fenomenal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Suhu air pada tahun 1990 ketika meletus sekitar 400 derajat Celsius,
namun dalam peristiwa ini, suhu air meningkat sampai 77,50 Celsius, membuat termometer rusak akibat pemanasan yang tinggi. Gempa bumi juga mengalami peningkatan, baik vulkanik dan gempa tektonik. Gempa bumi lebih tinggi dibandingkan ketika meletus pada tahun 1990.

aktifitas terbentuknya kubah

Peristiwa puncak Gunung kelud ketika muncul kubah dari danau kawah terjadi pada tanggal 5 November 2007 dengan diameter 100 meter serta tinggi 20 meter dari air kawah. Hingga saat ini, Kubah Lava masih tumbuh perlahan-lahan hingga ketinggian 200 meter dan melebar ke sisi barat daya dari luas danau kawah.


 

Dengan kondisi Gunung kelud saat ini, maka Gunung kelud memiliki wajah baru. Dengan kubah baru yang berasal dari kawah, Gunung Kelud terlihat lebih indah dari sebelumnya, dan merupakan peristwa fenomenal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Perubahan  Gunung kelud dengan Kubah baru sangat menarik bagi pengunjung dan merupakan panorama yang fantastis serta membuat pengunjung penasaran.




Kawasan ini berada + 40 km, + 45 menit dari Kota Kediri dan merupakan wisata gunung aktif berketinggian 1730 m dpl. Suasana yang sejuk dan panorama pegunungan yang indah menjadikan kawasan ini menarik bagi wisata alam, petualangan, dan kesehatan. Daya tarik dari obyek wisata ini antara lain:
  1. Area perkebunan yang rindang dan sejuk
  2. Panorama pegunungan yang indah
  3. Area panjat tebing, jogging, lintas alam, dan bumi perkemahan
  4. Jalan lorong menuju kawah di bawah gunung
  5. Danau kawah belerang di bawah gunung
  6. Pusat Informasi Vulkanologi
  7. Pertunjukan hiburan setiap hari libur/besar.


gedung teather untuk pertunjukan/hiburan

lorong menuju kawah

fenomena jabal magnet

air panas di kelud


pesona kelud di malam hari

Tempat wisata ini buka setiap hari dan bisa dicapai dengan kendaraan bermotor. Jangan lupa bagi anda yang sedang perwisata di kediri untuk mampir juga ke tempat wisata gunung kelud.

sumber foto: dari berbagai image di google

Rabu, 17 Agustus 2011

Tempat Kursus di "Kampung Inggris" Pare

Berikut Informasi tentang tempat kursus yang ada di Pare:
1. Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kab. Kediri Jatim
BEC
Program : 6 bulan
Sasaran : Grammar, Speaking
Biaya : Masuk : Rp 150 rb + Spp : Rp 50rb / bln
Suasana : Agak resmi, pake sepatu, meja kelas kaya SMA, seragam hitam putih hari jumat dan ujian, wanita muslim pake jilbab, dilarang masuk kelas pake sarung bagi yg cowok


HEC 1 & 2
Program : 3 bulan
Suasana : Mirip BEC (cabangnya BEC sih)

Harvard
Program : 1 bulan
Suasana : Bebas
Biaya : kalo ngga salah Rp 75 rb / bln / program


2. Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kab. Kediri Jatim
ELFAST
Program : 2 Minggu & 1 Bulanan
Biaya : Rp 40rb – 85rb / bln (tergantung program apa yang dipilih)
Suasana : Bebas
Sasaran : Grammar, Translation, Writing & TOEFL


Daffodiles
Program : 2 Minggu & 1 Bulanan
Biaya : Rp 70-an / bulan
Sasaran : Speaking & Pronounciation
Suasana : Bebas


Mahesa Institute
Program : 2 minggu, 1 bulanan dan program D2 plus
Biaya : tergantung ambil program yang mana
Sasaran : Grammar, Speaking
Suasana : agak resmi hampir sama dengan BEC

Smart ILC
Program : 1 bulanan
Biaya : Rp 70-80rb an/bln
Suasana : Bebas
Sasaran : Grammar
Smart ILC juga punya homestay english area yang disebut S’TORY (Smart Dermitory)


Access
Program : 1 bulanan
Biaya : Rp 70-80an/bln
Suasana : Bebas
Sasaran : Pronounciation, Speaking dan Grammar
Access punya homestay english area yang disebut Access girl /boy

Marvelous
Program : 1 bulanan
Biaya : Rp 70-80-an
Suasana : Bebas
Sasaran : Speaking, Pronounciation dan Grammar
Marvelous punya homestay english area juga yang namanya Marvelous 1, 2, 3, dst


Krishna
Program : 2 mingguan, 1,5 bulan dan 1 bulanan
Biaya : Rp 20 rb – Rp 150rb
Sasaran : Grammar & Speaking
dan lain-lain


Transport :
1.    Naik KA
Dari Jakarta: Stasiun Pasar Senin naik KA jurusan Malang (Mataremaja, Gajayana, kereta Senja), kemudian turun di Stasiun Kediri. Dari Stasiun Kediri naik becak ke Halte Bis Toyota (bayar sekitar Rp. 10.000,-). Dari Halte tunggu bis besar Jurusan Surabaya yang lewat Pare (biasanya harapan Jaya, awas hati2 jangan sampai keliru bis yang lewat Kertosono) atau bisa juga naik bis ukuran agak kecil warna biru (puspa indah) jurusan Malang turun di BEC Pare ( bayar sekitar Rp 5.000,-). Dari situ segera mencari tempat kursus dan kost-kostan sesuai dengan waktu dan biaya yang kita punya.


Dari Jakarta: Stasiun Gambir / Stasiun Pasar Senin naik KA Jurusan Surabaya/Jombang turun Stasiun Jombang. Dari stasiun Jombang keluar melalui pintu utama kemudian jalan ke arah kanan sampai menemukan perempatan besar, menyeberang rel dan jalan raya kemudian naik bis ke arah Kediri/Trenggalek yang lewat Pare. Turun di lampu merah perempatan Tulungrejo (membayar sekitar Rp 5.000,-). Dari perempatan Tulungrejo naik becak ke Mahesa Institute atau ke BEC (membayar sekitar Rp.10.000,-). Dari Mahesa atau BEC segera mencari tempat kost dan kursus.


2. Naik Bis
Cari bis jurusan Kediri turun terminal Kediri. Dari terminal naik bis besar jurusan Surabaya yang lewat Pare (hati2 jangan keliru yg lewat Kertosono) atau bus ukuran kecil warna biru jurusan Malang lewat Pare turun di BEC Pare. (membayar sekitar Rp.5.000,-). Dari situ segera mencari tempat kursus dan kost-kostan sesuai dengan waktu dan biaya yang kita punya.


Jika dari Surabaya naik bis jurusan Kediri yang lewat pare, kemudian turun di lampu merah perempatan desa Tulungrejo (membayar sekitar Rp 5.000,-). Dari perempatan Tulungrejo naik becak ke Mahesa Institute atau ke BEC (membayar sekitar Rp.10.000,-). Dari Mahesa atau BEC segera mencari tempat kost dan kursus.


Jika dari Malang, naik bus Puspa Indah jurusan Kediri,  kemudian turun di lampu merah perempatan desa Tulungrejo (membayar sekitar Rp 5.000,-).  Dari perempatan Tulungrejo naik becak ke Mahesa Institute atau ke BEC (membayar sekitar Rp.10.000,-). Dari Mahesa atau BEC segera mencari tempat kost dan kursus. Perlu diperhatikan, jika naik bus dari Malang saat malam hari, maka bus tidak melewati perempatan lampu merah Tulungrejo, jadi turunnya di perempatan lampu merah desa Gedangsewu, baru kemudian naik becak ke "kampung inggris".


Biaya Makan:
Nasi Ayam : berkisar Rp 3500 - Rp.5.000,-
Nasi Goreng : Rp 2.500-Rp.4.000,-
Bakso : Rp 2.000 - Rp 4.000,-
Mi ayam : Rp 2500
Nasi Sayur : Rp 2.000
Nasi pecel: Rp. 2.500 - Rp 4.000,-
Es/jus buah: Rp. 2.000


Biaya Kost :
english area : Rp 100.000 - 250.000 (include program)
non english area = Rp 50.000 - Rp 80.000,-


Tempat Nongkrong :
Garuda Park (tugu garuda): banyak warung/pedagang kaki lima menjual makanan
Gua Surowono (adventuring, menyusuri gua, for free)
candi Surowono: refreshing sejarah
Masjid An Nur (Masjid Agung Kab. Kediri): ada taman, tempat nyaman untuk belajar
Alun-alun Pare: warung/pedagang kaki lima, taman bermain, tempat duduk